September 16, 2011

Ing Madya Mangun Karsa

Kehadiran manusia ke muka bumi membawa misi suci yaitu Khalifah Fil Ardh (memimpin dunia), sebuah misi yang menuntut untuk selalu aktif dan kreatif, mengambil karsa dan berkarya. Jika seseorang selalu pasif maka dengan sendirinya sudah bertentangan dengan sunnatullah sebagai wakil Allah, sebuah fungsi yang tidak bisa dipegang oleh yang lain, termasuk malaikat. Namun dalam saat yang bersamaan manusia tidak bisa bersikap sombong, karena manusia juga mengemban tugas Abdullah (abdi Tuhan), yang harus selalu mengabdi hanya pada Tuhan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia yang lainnya". Hal ini mengajarkan bahwa kesejatian wujud atau eksistensi seorang manusia dilihat dari sejauh mana dia  mampu bermanfaat untuk orang lain, karena itu seorang manusia akan dinilai dari karyanya. Dan tugas utama seorang manusia adalah mempersembahkan karya terbaiknya sebanyak-banyaknya dan memberi manfaat seluas-luasnya kepada orang lain dan lingkungan.

Kualitas iman tidak berhenti pada pengakuan percaya dalam hati dan ucapan, tetapi membutuhkan wujud kongkret dalam tindakan.  Iman tidak sekedar menyejukan dahaga spiritual individu, melainkan juga harus bisa dinikmati secara sosial atau lingkungan sekitar.

Untuk saat ini, dalam konteks ke-Indonesia-an, kita harus bisa memberikan sumbangsih kita dalam membantu menyelesaikan masalah-masalah perekonomian bangsa, ikut andil dalam pembenahan pendidikan bangsa, mengawasi kesucian hukum di negara Indonesia, dan lain sebagainya. Sejak krisis ekonomi, banyak rekan-rekan (bahkan keluarga) kita yang kehilangan mata pencaHARIan. Angka kemiskinan bertambah, rumah-rumah kumuh dijumpai di mana-mana, anak-anak kecil mengamen di jalanan, semuanya menggambarkan bahwa bangsa kita sedang bermasalah.

Memang, dalam menerapkan nilai-nilai Ing Madya Mangun Karsa selalu ada godaan-godaan untuk tinggal di zona nyaman. Yang merasa karirnya sukses, tenggelam dalam hidup bergelimang kemewahan Dan yang merasa miskin, pasrah menyerah berharap iba dari pemerintah maupun orang-orang kaya tanpa ada usaha untuk memperbaiki kehidupan. Yang lebih parah… si miskin terjebak untuk mengambil jalan pintas menjadi kaya, seperti menjadi perampok, pembunuh bayaran, pedagang narkotika, dan lain sebagainya. Di sinilah letak keimanan seseorang diuji.

Kalau di bumi nusantara saja masih terjadi kelaparan, kekerasan, dan perilaku destruktif lainnya… maka tugas kita sebagai khalifah (pemimpin) perlu dipertanyakan. Semua itu merupakan tanggungjawab yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, kita bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial.